Terbit
di Horison, edisi Oktober 2011
KIBLAT
LIMA
:gus tf
yang berdiri dalam baris tulang rusuk,
hai yang daging dalam lima rukun tulang
rawan perempuan tomat, bawang, kentang,
cabe, lengkuas, jahe, wortel. Anak
perempuan
pulang mandi, coba terka siapa yang
berdoa
atau yang pulang dengan membawa anak
ular
––atau janganjangan anak ulat. Ladang
kita
dalam harihari bumi adalah usususus
panjang
ternak. Oh beranaklah yang biak dalam
doa,
aminkan perempuan kopi, teh, kina,
cengkeh.––
selalu ada yang darah di pangkal pinang.
Berurat ke pangkal tak sampai ke bumi,
berurat ke langit tergantung dalam darah
anak
ulat barangkali ular.
––oh ternak yang
lahir dalam daging,
menginap dalam tulang dan tiga belas
rukun
darah, mengalirlah, mengalirlah,
mengalirlah
sebagai tomat, bawang, kentang, cabe,
lengkuas,
jahe, wortel, ubi. Membiak, membiak,
membiaklah,
ke luar tubuh. Apa saja, seperti apa,
seperti lupa.––
kemanakah sarang ular atau ulat dalam
daging
dan tulang? Ke rahim anak perempuan
yang pulang ke tulang rawan dengan lima
rukun
tulang rusuk dalam saf tubuh yang
rumput.
(Padang, 2011)
KIBLAT
ENAM
:zelfeni wimra
Cairlah sirah dalam sirih, cairlah darah
dalam daging,
yang cacing melengkung dalam tubuh
rumput liar,
cairlah putih dalam tulang, cairnya duka
dalam lambung
burung liar, lumat yang terbang dengan
lima
pasang sayap dan kerumunan kelelawar
yang purapura
diam, kemudian biji jambu air terkurung
seperti lambung lesung yang menampung
hujan,
tersesatlah doa atau dosa tulang. Selalu
saja
mampir angin utara, timur, selatan,
barat, selalu duka
yang berat atau ringan dalam rahang mulut
perempuan
kopi. Ahai, yang menyambut hujan badai
dalam mulut
burung liar, pelanpelan seperti pedas
sedah kan selalu
dikunyah dalam tubuh yang runut.
(Padang, 2011)
KIBLAT
TUJUH
;romi zarman
Bercakar ke dalam daging yang merah,
yang pucat dalam himpunan zikir tulang
burung jantan. Seperti akar kayu tumbuh
menjalar, seperti urat tulang akan
selalu
ada warnah darah. Coba bisikkan paruh
burung jantan yang menginap dalam ruas
ruas tulang burung betina. Berurat
keluar,
tumbuh menjalar di batang rumput.
––paruhnya rumput dalam daging, daun
dalam tulang, akar dalam dalam darah
seekor burung yang terbang ke dalam
sarang dengan segenggam cacing rumput.––
oh, kan selalu api atau air yang tumbuh
dalam daging burung jantan. memutihlah
tulang burung betina. Mengalirlah api
atau
air dalam lorong tulang.
––Kedai kita kan selalu ada pemesan kopi
pahit, hidangkan gelas, sendok, terserah
sepotong roti. Hidangkan candu dan kita
menunggu ayo masuk dalam daging dan
tulang. Mari minum. Bersulang. Teguk
segala yang hidup dan tak hidup dalam
tubuh yang luput. Ahai, mari menginap,
bilang selamat tidur dan selamat bangun.––
Oh yang yang ulat di batang rumput
dimakan burung jantan. Bersayap ke
langit
terbang dalam warna paruh burung betina.
Seperti akar kayu tumbuh meliar, seperti
urat daging dan tulang, keras dan lunak,
api dan air dalam darah.
(Padang, 2011)
KIBLAT
DELAPAN
:deddy arsya
Siapa yang
menunggang ikan dalam aquarium kemudian berenang dalam ruasruas rumput karang. Ini
hanya karang putih dalam tulang. Tempat di mana ikan menguap. Bertelurlah
ibuibu ikan dalam darah. Lahirlah anakanak ikan di ruas tulang. Ikan ini ikan
daging, seperti cangkang yang menyimpan kepiting, udang, siput, selalu ada yang
tumbuh keluar tubuh.
(Kuda adalah
puisipuisi yang dicoret, kertaskertas yang dirobek, dagingdaging yang dipotong,
tulangtulang yang dicincang, seperangkat alat pemasak: kompor, pisau, kuali,
periuk, sendok, minyak tanah, kayu bakar, kukuran kelapa. Ayo hidang di dapur. Lalu
kita hidang api dalam tungku. Baralah kayu. Abulah bara.)
Yang berenang
merentangkan cangkang. Cangkang ini cangkang tulang yang laut, dan ikanikan
bebas berenang. Seperti curiak, lampuang, mansai, di Danau Bawah, kan selalu
ada yang keliling kampung, berjalan ke ruas tubuh. Ahai yang menunggang ke
dalam sembilan puluh sembilan rukun rumput dalam tulang.
(bacakan puisi,
tebarkan kertas, potongkan daging ikan, cincangkan tulang kuda. kita memasak
ragam gulai atau gorengan. Ah, terserahlah. Kita masukkan santan, cabe, kunyit,
jahe, lengkuas, seladri, cengkeh, pala. Kita hidangkan di atas meja. Makan
adalah hidangan sarapan makan pagi.)
(Padang, 2011)
Biodata
Alizar Tanjung,
lahir di Solok, dusun Karang Sadah, 10 April 1987. Ia sekarang tercatas sebagai
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam di IAIN Imam Bonjol Padang, Sumatera
Barat. Bergiat Di Forum Lingkar Pena (FLP) Sumbar.
Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, dan esai,
dipublikasikan di berbagai media lokal dan nasional; Harian
Tempo, Sindo, Suara Pembaharuan, Jurnal Nasional, Pewarta Indonesia, Berita
Pagi (Palembang), Linggau Post, Singgalang, Padang Ekspress, Haluan, Majalah
Sabili , Majalah Annida Online, Majalah Tasbih, Suara Kampus. .
Tulisannya berupa cerpen dan puisi termaktub pada
beberapa Antologi, Rendezvous di Tepi
Serayu (Grafindo Litera Media, 2009), Bukan Perempuan (Grafindo Litera Media,
2010), Puisi Menolak Rupa (Unggun Religi, 2010). Kerdam Cinta Palestina (Felipenol, 2010), Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit
Trowulan 2010 (Dewan
Kesenian Kabupaten Mojokerto, Oktober 2010).
Antologi Cerpen Festival
Bulan Purnama Majapahit Triwulan 2010 (Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto, Oktober
2010). Tergabung dalam Nominasi
Anugerah pena kategori cerpen dan esai terbaik 2009 (FLP Pusat). Pemenang harapan 6 lomba cerpen LMCR-2009. Nominator
lomba cerpen tingkat mahasiswa se-Indonesia 2009, yang diadakan STAIN
Purwokerto. Juara satu cerpen “Kurungan” dalam lomba cerpen Sumbar yang
diadakan Genta Unand tahun 2009
No comments: